| Views |
10773  |
|
Awas! Kedokteran Difensif Mulai Marak di Indonesia Jakarta - Berita tentang malpraktik yang gencar di media massa ternyata mempengaruhi para dokter dalam memeriksa pasiennya. Akibatnya, pemeriksaan dilakukan secara berlebihan dan berbiaya mahal..
Misalkan, seorang pasien yang hanya menderita influenza harus menjalani pemeriksaan laboratorium secara lengkap (darah, air seni, hati, ginjal dan lain-lain) karena kekhawatiran sang dokter agar mereka dapat mendeteksi risiko klinis atau kondisi medis tertentu, walaupun sekecil apapun. Hal ini diungkapkan Anggota Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia dr. M. Natsir nugroho SpOG, Mkes dalam Seminar "Aman, Nyaman dan Akrab Bersama Dokter, Merajut ulang Kepercayaan Pasien," yang digelar di Fakultas Kedokteran UI, Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (7/7/2007). Namun, meski pemeriksaan ini baik dilakukan, bagi pasien terkadang bisa sangat merugikan karena pasien harus mengeluarkan biaya yang lebih, padahal seharusnya tidak perlu. "Di Indonesia belum ada penelitian berapa dokter yang melakukan itu tapi sepertinya sudah mulai terlihat gelagatnya," tutur Natsir. Dokter yang mengajukan prosedur medis semacam ini sering digolongkan sebagai dokter difensif positif. Sedangkan, dokter yang justru menghindari pasien atau prosedur tertentu sering digolongkan sebagai dokter difensif negatif. Natsir menambahkan untuk menghindari tindakan kedokteran difensif sangat diperlukan komunikasi antara dokter dengan pasien secara dua arah. Kedua belah pihak harus saling jujur memberikan penjelasan tentang informasi yang dibutuhkan. Misalnya, pasien harusnya jujur memberikan keterangan tentang segala keluhan yang dirasakan dan dokter harusnya juga komunikaaatif memberikan penjelasan mengenai penyakit yang didiagnosiskan ke pasien. "Harus ada hubungan saling percaya antara dokter dan pasien," tandas Natsir. ( ptr / bal ) 07/07/2007 20:21 WIB - Nadhifa Putri - detikcom
| Rumoh MONGTUH - IT SOLUTION | mongtuh.com
|