| Views |
449  |
|

| Ceritanya ada orang yang mau, ada orang yang bisa.... Si Bisa belum tentu mau, tapi si Mau belum tentu bisa.... repotttt... gitu aja kok repot. Orang Bisa dulunya pasti pernah mau, mau belajar, mau mencoba, dan mau - mau yang lainnya. Mau mencetaknya menjadi bisa, tapi inkonsistensi untuk tetap mau mejebaknya hanya didalam lingkungan sekedar menjadi si Bisa... Selanjutnya derajat keBISAannya menurun atau terlampaui oleh orang lain, karena ketidakMAUan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Sama dengan Teknologi KECERDASAN BUATAN (Artificial Intelligence) yang dimiliki oleh teknologi komputer saat ini seperti diantaranya ........ |
- Games
- Logika fuzzy
- Sistem pakar
- Robotika
- Jaringan syaraf tiruan, dll
Teknologi Artificial Intelligence (AI) ini beberapa diantaranya secara otomatis selalu mengupdate database ilmunya setiap menerima kondisi yang berbeda. Secara otomatis kemampuannya dan kepintarannya bertambah dari setiap kerja yang dilakukannya.
AI semakin hari semakin mendekati kemampuan otak manusia dalam mengolah data dan mengubahnya menjadi informasi, AI hampir tidak pernah tidak MAU, selalu melakukan apa yang dia BISA, ini menyebabkannya semakin pintar... So... kita juga untuk BISA cuma satu kuncinya, yaitu MAU.... dari setiap MAU yang kita lakukan kita semakin BISA, saat telah menjadi si Bisa kita harus tetap Mau karena akan melipatgandakan tak terhingga keBISAan kita dari setiap keMAUan kita.... Bingung...? intinya kalo ingin BISA harus MAU, setelah BISA harus tetap MAU ___SaidS___ from case,.. why me? note : BISA tidak= racun ular MAU = bukan harimau, tetapi keikhlasan melakukan sesuatu
|