| Views |
514  |
|

| Ayam ternak dari mulai lahir biasanya hidup dikandang, makanannya selalu dispulai oleh majikannya. Beda dgn ayam kampung, lahirnya saja sudah disemak-semak, dari mulai orok sudah diajari induk cara mengais rezeki. Dia bebas pergi kemanapun dia suka, kata dia kebebasan itu mahal. Dia juga bilang aku tidak takut hujan dan badai. Alkisah suatu hari para ayam ternak mendengar pembicaraan majikannya yg sedang kesusahan. "sepertinya saya akan menutup peternakan ini, semua ayam saya, akan saya lepaskan saja dihutan". |
Puihhh.... Para ayam ternak ini pun menjadi gelisah, dan masing-2 langsung menyusun strategi.
Ada yg nanti berkeinginan utk berkebun jagung, sehingga jika panen bisa dipakai utk makan dia dan keluarganya. Ada yg berencana hidup dipinggir sungai yang banyak cacingnya, malah ada yg berencana membuat pabrik pakan ternak. Untungnya gak ada yg berencana jadi caleg, hehe....
Tapi disini, coba kita bayangkan, mereka lihat tanaman jagung saja tidak pernah, melihat sungai pun seumur hidup belum. Apalagi tau dari apa bahan baku pakan dibuat. Runyamlah..... Jangan kata ayam ternak, ayam jago nomor satu, petarung paling tangguhpun makannya selalu disediakan (ayam karyawan, hehe). Sama dengan sebagian kita, dari mulai lahir, sekolah, bergantung pada orang tua dan bekerja juga semuanya bergantung pada majikan.
Ayam kampung dari mulai nonggol dipermukaan telur sudah diajarkan mandiri, sampai tidurpun dia bisa hanya bertengger diatas dahan pohon. Di pikir-2 menderita juga ayam satu ini, hehe..... Sementara ayam ternak karena dia punya keunggulan dia bisa dimanja oleh yg memeliharanya, ya kan...!! Jadi pilih mana mau ayam peternakan atau ayam kampung.
Fakta 1 : Biasanya kedua jenis ayam ini juga berakhir hidupnya dimeja makan. Ayam kampung itu bisa menyenangkan orang diakhir nasibnya (dagingnya lebih enak.)...
Fakta 2 : Kebebasan itu enak tapi tidak setiap hari, nah... Yang 8 jam waktunya bergantung pada pagar pembatas juga tidak enak jika setiap hari. Makanya paling enak itu balance, sekali-2 bisa bebas, sekali-2 diikat banyak aturan perusahaan.
Fakta 3 : Karyawan biasa, kebanyakan lebih bisa menikmati hidupnya kini, bukan generasinya nanti. Beda dengan pebisnis yg mulai dari nol, biasanya pewarisnyalah yg lebih bisa menikmati hasilnya.
Sebagai karyawan memang enaknya cari sampingan skali-2 biar tau bagamana pahit manisnya mengais-2 rezeki. Untuk pebisnis, ayolah sekali-2 bekerja juga bersama karyawannya biar tau gak enaknya diikat oleh aturan. Hasilnya jika konsisten pasti seimbang, kita bisa menikmati hidup kita, generasi kita nanti juga bisa menikmati hasilnya.
Fakta 4 (terakhir) : Keajabain konstruksi tubuh ayam. Coba pegang badan ayam dengan kedua tangan anda. Biar kan kakinya tetap menjejak tanah, goyangkan badannya perlahan kedepan dan kebelakang. Ajaibnya kepala ayam tersebut tidak akan terpengaruh goyangan sedikitpun, kepalanya seperti tergantung, seperti tidak menopang pada badannya, keseimbangan sempurna
Tulisan ini sebenarnya bukan buat kalian, saya sedang menasihati diri sendiri. Inspirasinya dari dua baris kalimat yang saya dengar dari Mr. Tono DR pagi ini (thanx Bos)
We Aren't Chicken We Are Cock We Aren't Broiler We Are Leghorn *****-- Said Syahputra --*****
|